Kisah Negeri Antah Berantah dan Setitik Cahaya - PKS BATAM
Headlines News :
Home » » Kisah Negeri Antah Berantah dan Setitik Cahaya

Kisah Negeri Antah Berantah dan Setitik Cahaya

Written By pks batam on Sabtu, 26 Januari 2013 | 2:46 PM

 Oleh: Hairul, S.Sos

ALKISAH, terdapatlah suatu negeri di dunia antah berantah yang memiliki berbagai macam problem. Mulai dari Al Quran yang di korupsi, kisruh PSSI, sampai kepada vonis ringan Angelina Sondakh atau Angie. Selain itu, dana perjalanan haji, pengangguran, dan kemiskinan juga tiada kunjung bisa dituntaskan dari tahun ke tahun di negeri ini.

Tak pernah usai pula, adalah kisah Bank Century. Masa Tim Pengawas (Timwas) oleh salah satu lembaga di negeri ini pun kembali diperpanjang sampai 2013. Tentu saja, larutnya persoalan ini karena sarat kepentingan. Bahkan disebut-sebut. Orang nomor dua di negeri ini juga ikut terlibat. Begitulah sedikit dan banyaknya polemik yang terjadi di negeri ini, semua seakan tidaklah bisa diselesaikan.

Padahal menurut catatan pengamat, negeri tersebut sedikitnya sudah mengalami enam kali pergantian pemimpin. Baik laki-laki maupun perempuan sudah pernah memimpin negeri ini. Namun herannya, dari keenam pemimpin tersebut belum ada yang bisa menghapuskan segala macam bentuk permasalahan. Jika ada yang bertanya mengenai itu semua maka jawabannya adalah, kami bukan supermen ataupun wonderwomen yang bisa merubah segalanya.

Sungguh ironis memang negeri tersebut dan entah apa yang menyebabkannya. Bila disebut tidak adanya sumber daya manusia atau sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan masyarakat, rasanya, tidaklah mungkin. Jika dilihat dari segi SDM orang-orang yang ada bukanlah orang sembarangan.

Kita bisa melihat, penduduknya sudah banyak yang mendapatkan gelar Profesor, Doktor, dan pangkat intelektual lainnya yang didapat dari berbagai tempat. Baik itu produk didalam negeri antah berantah itu sendiri maupun juga dinegeri lainnya.

Bahkan, di negeri ini telah banyak melahirkan berbagai macam pengamat yang fokus mengamati hampir disetiap bidang. Mulai dari politik, hukum, keamanan, sampai kepada ekonomi atau lainnya. Akan tetapi masalah seakan benar-benar tak kunjung henti untuk mendekati negeri ini. Entah karena hanya terlalu sering mengamati dan berbicara semata atau karena lainnya, yang jelas semua tidaklah ada jawaban yang pasti.

Sedangkan dari segi sumber daya alamnya, negeri ini juga dikaruniai banyak sekali sumber daya alam yang sangat melimpah. Bayangkan saja untuk makanan pokok, mereka hanya perlu menanam dilahan yang terbentang sangatlah luas. Semua itu tidaklah seperti di negeri lain yang harus menanam padi di atas gedung karena keterbatasan lahan.
Maka tak heran negeri ini dikenal sebagai negeri agraris. Namun anehnya, walaupun mendapatkan julukan negeri agraris. Jarang sekali terdengar keberhasilan swasembada pangan dalam setiap tahunnya. Malahan yang sering terdengar untuk mencukupi kebutuhan penduduk negerinya, haruslah mengimpor dari sejumlah negara, termasuk tetangganya yang menanam padi diatas gedung tadi.

Ironis memang, namun ini lah sebuah kenyataan yang harus dihadapi oleh sebagian masyarakatnya. Dikatakan sebagian karena memang rakyat kecilah yang merasakan itu semua. Sedangkan bagi mereka yang telah mendapatkan kursi, mereka lebih sering bolak-balik keluar negeri, kerjanya naik mercy, dan setiap tahun meminta kenaikan gaji. Bahkan dengan terang-terangan mereka meminta itu dan ini termasuk meminta dana aspirasi. Entah apa yang ada dipikirannya dan yang akan dilakukannya dengan itu semua, yang penting apa yang dikerjakannya hanya untuk kemakmuran rakyat, itu kata mereka.

Dengan kondisi demikian maka sudah dapat dipastikan, negeri antah berantah ini sangatlah jauh dari kehidupan yang sangat pasti. Penduduknya yang berada di grass root sangatlah jauh dari yang namanya berkecukupan, baik itu mereka yang menghasilkan makanan pokok bagi orang yang berdasi (baca ; petani). Sampai kepada mereka yang melawan ombak untuk mencari ikan, udang, tripang, atau lainnya yang ada di laut. Kita bisa melihat realita penduduk negeri ini misalkan dari ramainya penyajian sejumlah media akan bagaimana, apa, dan jauhnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin di negeri antah berantah.

Salah satu wilayah di pesisir timur misalkan banyak sekali “menghasilkan” janda dan anak-anak yatim. Semua memang beralasan, yakni perut dan dapur yang harus tetap ngebul.

Mereka yang mempunyai tanggung jawab untuk menafkahi keluarganya harus rela menyelam untuk mencari tripang atau lainnya. Tak tanggung-tanggung kedalaman 30 meter pun mereka selami tanpa alat demi anak dan istri yang senantiasa menunggu, namun alhasil dengan kedalaman seperti itu resiko terbesar pun didapat.

Mulai dari genderang telinga yang pecah, lumpuh, sampai kepada kematian pun selalu membayangi mereka. Sementara disisi lain, orang-orang yang memiliki banyak uang dengan mudah menikmati hasil tangkapan tanpa pernah berpikir apa dan bagaimana mereka mendapatkannya.

Ironis memang. Namun begitulah nasib mereka yang nyata karena telah menjadi penduduk di negeri antah berantah. Mereka semua tidaklah dipedulikan, kalaupun dipedulikan ada masanya yakni ketika proses kampanye pemilu akan berlangsung.

Dipedulikan oleh mereka yang jago bermain silat lidah dan beretorika belaka sehingga tidak sedikit penduduk tersebut merasa bahagia. Padahal sesungguhnya mereka ditipu melalui bermacam cara dan retorikanya. Sedangkan lebih dari itu semua, maka menjadi mustahil untuk mempedulikan yang telah berjasa padanya. Semua ditutupi. Seolah-olah sibuk mengurusi sistem politik negeri ini dengan prinsip-prinsip demokrasi yang diakui oleh dunia.

Ironis memang kisah negeri antah berantah tersebut. Jika melihat dengan saksama, semua itu hanyalah akan menitikkan air mata semata bagi mereka yang melihat, mendengar, dan merasakan kisah suramnya negeri antah berantah ini.
Setitik Cahaya 2013, tahun negeri ini disebut-sebut sebagai tahun politik. Sebab, April 2014, negeri ini kembali akan memilih pemimpin. Tahapan demi tahapan untuk itu semua pun sudah dilakukan. Wasit "permainan" yang biasa disebut Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah mengatur jadwal terkait penyelenggaraan 2014. Terbaru, sang wasit telah melakukan pengundian nomor urut kepada 10 peserta.

Didapat, Nasional Demokrat (NasDem) mendapati nomor 1, diikuti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan nomor urut 2, 3 dan 4. Selanjutnya, ada Golkar di nomor urut 5, Gerindra di nomor 6 dan Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Hati Nurani Rakyat (Hanura) di nomor urut 7, 8, 9 dan 10.

Kesepuluh parpol ini lah yang mulai menyiapkan trik guna memikat konstituen. Salah satunya adalah, dengan melakukan Safari Dakwah. Sejak beberapa minggu terakhir, petinggi parpol berlambang untaian padi tegak dan bulan sabit ini berkeliling Pulau Sumatera. Negeri ini, memang dikenal sebagai negeri kepulauan. Banyaknya pulau-pulau terpisahkan oleh laut.

Safari dakwah menjadi bagian penguatan agenda menuju kemenangan 2014. Mereka bertekad, masuk dalam 3 besar raihan suara terbanyak. Mampukah? Jika menarik kebelakang. Raihan suara partai ini memang selalu naik. Dari 45 kursi pada 2004 dan naik 57 kursi pada 2009. Tren kenaikan suara itu memang tidak bisa dipungkiri. Bagaimana proses pengkaderan partai sejak awal memang patut diacungi jempol. Tidak banyak, partai di negeri ini yang memiliki kader yang militan.

Tentu inilah yang menjadi modal utama partai ini besar. Ini pula yang menjadi modal terbesar kemenangan yang tentunya tak dimiliki partai lainnya untuk kemenangan 2014.

Penulis pribadi pernah memiliki cerita terhadap salah satu kader partai ini. Setiap harinya sang kader, berkeliling kampung tanpa kenal lelah senantiasa bersosialisasi kepada masyarakat. Hingga, pada suatu malam. Sang kader (baca ; akhwat) mendatangi rumah salah satu petinggi partai lain. Sang kader ini, tidak pernah mengetahui bahwa yang ia datangi adalah petinggi parpol.

Saat masuk, ia pun tercengang melihat poster besar binatang bertanduk yang merupakan logo partai tersebut. Sang petinggi parpol yang memang sudah mengetahui sepak terjang sang kader sebelumnya, langsung bertanya, "Apa kamu tidak tahu bahwa Saya ini petinggi parpol lain. Kok kamu masih berani-beraninya menyambangi Saya," tanya petinggi parpol dengan sang kader.

Bukan ketakutan, dengan santainya, sang kader pun menjawab, "Saya kesini bukan karena perintah partai. Saya kesini hanya berniat karena Allah. Murni karena dakwah. Jika tidak begitu, Saya tidak akan betah dan bertahan. Mana ada orang yang rela setiap hari menyambangi dari satu rumah ke satu rumah tanpa dibayar," jawabnya santai. Mendengar hal tersebut. Petinggi parpol itu pun tertegun bukan kepalang. Ya, dakwah telah mengalir dalam darah kader partai ini. Mereka rela berpanas-panasan, dibawah rintik hujan dan lainnya. Tak ada uang lelah, tak ada insentif. Mereka yakin, balasan Sang Pencipta lebih dari segalanya.

Maka tak dipungkiri, lokomotif partai ini adalah kader, bukan tokoh. Dengan lokomotif inilah, partai ini mampu menjadi partai besar tanpa mengandalkan tokoh besar seperti partai lainnya.

Karena itu, salah satu pengamat politik di negeri ini J. Kristiadi menegaskan, ia belum pernah menyaksikan pengkaderan partai yang memuaskan, kecuali di partai ini. Itu mungkin subyektif, tetapi memang seperti itu. Partai-partai saat ini tak begitu serius merekrut dan menyeleksi anak muda yang berminat berpolitik. Akibatnya, saat hendak pemilu mau mencalonkan siapa masih bingung. Akhirnya merekrut tokoh dari luar yang punya karisma, daya jual tinggi, punya dana, demi mendapat suara.

Ia melihat, partai ini merekrut orang muda dan mengkader dengan baik sehingga punya value, mendalami betul ideologi dan sudah teramat sudah banyak kisah dan kesaksian betapa militansinya kader-kader partai tersebut.(islamedia.web.id)

Modal besar lainnya yang dimiliki partai ini ialah, di arena pergantian kepemimpinan (mereka menyebut presiden, red). Tak pernah terdengar, ketika proses pergantian presiden perputaran uang layaknya partai-partai lainnya. Tak ada aroma suap. Tak ada istilah gontok-gontokan.

Kepercayaan publik juga tak kalah hebatnya menjadi modal utama partai ini. Adanya nila karena sikap salah satu politisi Arifinto yang kedapatan membuka gambar porno saat rapat paripurna, tak membuat rusak susu sebelanga. Arifinto pun langsung mengumumkan pengunduran dirinya. Meskipun tak bisa dianggap remeh. Sikap gentel itu mengundang simpatik dari masyarakat.

Kepedulian partai ini kepada masyarakat karenanya telah mengalahkan hal-hal demikian. Tak ada partai lain yang memperingati Hari Ibu setiap 22 Desember, setiap tahunnya. Hanya partai ini yang melakukannya. Meskipun kadang, hanya sekedar menggelar talkshow bertemakan sosok ibu.

Tak ada pula, partai lain yang kadernya tak terlibat korupsi. Hanya partai ini. Peneliti korupsi politik ICW, Apung Widadi dalam juma pers "Outlook Korupsi Politik 2013" di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Jumat (28/12) menegaskan. Hanya ada dua partai yang bersih dari korupsi. Yakni PKS dan Hanura.

Sementara, partai lainnya Golkar misalkan. Ada 7 orang yang tersangkut kasus korupsi. Yaitu; Zulkarnen Djabar (anggota Banggar dan Komisi VIII DPR), Yohanes Eluay (Ketua DPRD Jayapura), Iqbal Wobisono (mantan anggota DPRD Jateng), Yurikus Dimang (Wakil Ketua I DPRD Palangakaraya), Andi Irsan Idris Galigo (anggota DPRD Bone), Zahri (Ketua DPRD Pelawan) dan Muhammad Faisal Anwar (anggota DPRD Riau).

Sementara dari PAN ada 5 orang. Yaitu, Riza Kurniawan (Wakil Ketua DPRD Jateng), Taufan Andoso Yakin (Wakil Ketua DPRD Riau), E Suminto Adi (anggota DPRD Mojokerto), Agung Purno Sarjono (anggota DPR Semarang) dan Suminto Adi (anggota DPRD Mojokerto).

Sementara untuk Partai Demokrat terdapat empat orang. Mereka adalah Angelina Sondakh (anggota DPR), Muhammad Nazaruddin (mantan angota DPR), Wisnu Wardhana (Ketua DPRD Surabaya) dan Andi Alifian Mallarangeng (mantan Menpora).

Jumlah kader Demokrat yang tersangkut kasus korupsi sama dengan PDIP. Kader partai berlambang kepala banteng yang terjerat korupsi adalah Izederik Emir Moeis (Ketua Momisi XI DPR), Murdoko (Ketua DPRD Jawa Tengah). Aries Marcorius Narang (Ketua DPRD Palangkaraya) dan Sukarni Joyo (anggota DPRD Kutai Timur).

PKB dan PPP masing-masing punya dua kader. Yaitu; Zulkifli Shomad (mantan Ketua DPRD Kota Jambi) serta M Dunir (anggota DPRD Riau) dari PKB. Sedangkan PPP, SD (anggota DPRD Lobar) dan Jambran Kurniawan (Wakil Ketua DPRD Palangkaraya). Dan terakhir Partai Gerindra. Seorang kader Prabowo Subianto yang tersangkut korupsi itu adalah Sumartono (anggota DPRD Semarang). Lagi-lagi, ini menjadi modal utama kemenangannya pada 2014.

Tak ada pula partai lain yang peduli kepada Office Boy (OB) salah satu bank di negeri antah berantah itu, yang mengembalikan uang Rp 100 juta. Atas jasa Agus Choeruddin, partai ini menghadiahinya dengan umroh. "Atas ini kami memberikan apresiasi, dengan ini dapat menjadi contoh dan menjadi ikon 2013 agar seluruh anggota dan simpatisannya jujur. Oleh karena itu, kami memberangkatkan umroh untuk Agus dan istri dan kedua orang tuanya," kata Luthfi Hasan, sang presiden.

Bersih dari korupsi dan aroma suap, peduli kepada masyarakat dari segala golongan dan profesional dalam bekerja. Benar-benar menjadi faktor utama partai ini menuju 2014. Setitik cahaya ini lah yang diharapkan bisa merubah negeri antah berantah tersebut. Meskipun sulit, toh masih ada harapan untuk merubah semuanya. Mereka pun optimis membangkitkan negeri karena harapan itu masih ada. “Jika sekiranya penduduk negeri negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya,” (Al A`raaf : 96) Wallahu’alam Bishawab.(Radar Bangka)

*Hairul, S.Sos - Wartawan Radar Bangka
**Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba penulisan Safari Dakwah PKS Babel
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS BATAM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger