Ustadz Ispiraini: Pendakwah Harus Siap Berpolitik - PKS BATAM
Headlines News :
Home » » Ustadz Ispiraini: Pendakwah Harus Siap Berpolitik

Ustadz Ispiraini: Pendakwah Harus Siap Berpolitik

Written By pks batam on Kamis, 18 Juli 2013 | 3:02 PM

PKS BATAM - Pembaca setia POSMETRO, pasti tidak asing dengan tokoh kita satu ini. Dia seorang ustadz yang kerap memberikan solusi dalam kehidupan beragama khususnya bagi masyarakat Kota Batam. Ya Ustadz Ispiraini. Pria yang berpenampilan sederhana dan bersahaja ini, tidak hanya ingin berdakwah. Saat ini, dirinya sudah bersiap-siap untuk maju dalam pemilihan legislatif Provinsi Kepri.

Parlemen itu menurutnya adalah bagian dari mimbar dakwah. Konsekuensi berdakwah itu, harus masuk dalam dunia politik. Ingin tahu apa saja yang akan dilakukannya jika terpilih menjadi wakil rakyat?. Ikuti perbincangan reporter POSMETRO Messa Haris dengan Ustadz Ispiraini di bawah ini.

Apa alasan anda ikut dalam bursa Caleg 2014?
Saya bukan nyaleg tapi di calegkan.Berangkat dari pemahaman kita tentang Islam yang universal. Artinya Islam bukan sebatas ibadah salat atau berpuasa. Islam itu adalah solusi bagi umat, dalam perdagangan, bisnis, termasuk dalam politik.

Kita mengenal ada politik Islam. Ini sudah ada sejak dulu. Dan ulama-ulama dulu sudah mengarang salah satunya Imam Mawardi menuliskan kitab ahkam sultoniah. Itu kitab politik tingkat tinggi. Sebenarnya cukup banyak refrensi untuk kita (jika umat Islam ingin terjun ke dunia politik). Para ulama dulu tidak hanya membahas bagaimana salat, zakat, haji. Tapi juga bagaimana politik dari sudut pandang Islam. Tentu politik punya target yang satu, bagaimana keinginan syariat-syariat Islam itu terjewantahkan.

Ada lima prinsip syariat. Pertama menjaga harta, harga diri, keturunan, agama dan akal. Ini perlu di jewantahkan. Selama  ini persepsi kita dakwah itu mengisi pengajian. Tapi sekarang dakwah sudah luas. Ada dakwah lewat bermusik dan dunia perfilman. Itu bagian bagaimana dakwah Islam bisa masuk dalam semua sektor. Jadi tidak hanya di masjid tapi juga bisa dilakukan di gedung parlemen.

Kita berharap Islam yang rahmatan lil alamin itu, tidak hanya di koar-koarkan saja dalam kitab-kitab fiqih tapi juga dijawantahkan dan dibuktikan secara konkrit. Kita ingin bahwa menjadikan sesuatu yang benar menurut Islam itu juga harus diakui benar oleh negara. Negara kita kan demokrasi, jadi dari agama apa pun bisa menyampaikan aspirasi. Tidak ada larangan di negara demokrasi. Nah kita dari kelompok Islam menawarkan bahwa mari kita berdiskusi dan beradu argumen di lembaga-lembaga formal mana yang lebih cocok di negara kita.

Dalam Islam kan di wajibkan zakat, nah kalau ini tak diatur dalam undang-undang berartikan belum tentu benar menurut negara. Contohnya lagi minuman keras. Bukan hanya Islam yang menyatakan ini dilarang, disinilah kita beradu argumentasi. Kita masuknya itu bukan dalam rangka pemaksaan. Intres inikan menghargai suara terbanyak mana yang lebih baik untuk kemaslahatan umat. Itu yang kita tawarkan. Politik Islam itu memberikan tawaran. Saya juga maju bukan karena mau cari nama.

Tapi saya di tugaskan di jalan dakwah. Jadi saya ditaruh seperti pemain bola. Penyerang boleh, kiper pun boleh. Jika nanti saya terpilih dan dakwah mandek, masyarakat silahkan evaluasi saya.

Kenapa harus berpolitik semacam itu?
Ya karena itu satu-satunya cara. Misalnya saya ceramah. Saya menyampaikan dilarang meminum minuman keras. Terus undang-undang membolehkan, apa yang bisa saya perbuat. Ceramah saya jadi ga laku. Saya tidak bisa melakukan perubahan. Hanya menjadi teori. Kita ingin teori-teori kebaikan Islam ini kita paparkan sama yang lain. Dengan masuk parlemen itulah media agar kebenaran menurut Allah itu kita perjuangkan dan kebenaran menjadi milik negara. Artinya tidak dalam konteks memaksa. Kita beradu argumen saja mana yang lebih maslahat dan cocok untuk negara.

Apa yang membuat PKS mengusung Anda?
Saya kader PKS sejak tahun 2000. Di PKS itu mekanismenya tidak boleh meminta jabatan. Tapi ada lagi doktrin di PKS, kalau sudah di amanahkan, bismillah, maju. Di PKS itu ada semacam lembaga seleksi yang menyaring kader-kader yang terbaik dan prosesnya bukan setahun dua tahun. Itu semuanya dinilai secara detail. Mulai dari sisi akhlaknya, integritasnya, kehidupan rumah tangganya, sampai salat tahajudnya juga dilihat. Meskipun dia (kader) memiliki dana tapi rumahtangganya tidak bagus, bagi kita itu cacat.

Jadi di PKS itu ada semacam poling, para kader diminta menulis (nama kader yang akan maju menjadi wakil rakyat) dengan metode button up. Tetapi keputusan tetap berada di DPP dan dilihat track record masing-masing. Tahun lalu sebenarnya saya masuk juga. Ketika saya tanya struktur masih boleh mundur, saya mundur. Dengan syarat mengajukan argumentasi. Saya ajukan argumentasi saya. Salah satu yang membuat argumentasi saya di terima, mengenai komposisi Dapil. Saat itu komposisi Dapil harus ada keterwakilan perempuan 30 persen.

Sekarang kenapa tidak mengundurkan diri juga?
Saya sudah sampaikan, saya ingin fokus di dakwah. Tapi alasan saya tidak di terima. Saya bahkan sempat tanya dari mana dana saya. Jawaban pengurus enteng. Emang sejak kapan kita (PKS) Caleg itu jor-joran dananya. Jadi jangan berpikir begitu Caleg muncul, dia punya dana. Kalau saya punya Allah saja lah.

Anda memanfaatkan profesi sekarang ini untuk mencari suara?
Saya dalam berdakwah selalu profesional. Saya sama sekali tidak mau. Saya berpikir ada wilayahnya sendiri untuk bermain politik. Memang ada yang berkata seperti itu kepada saya. Saya bilang, silahkan rekam, silahkan catat apa yang saya omongin dan ikuti saya kemana pun saya ada pengajian. Saya akui saya mengisi (program dakwah) di beberapa media. Tapi saya tidak pernah berbicara yang lain, saya hanya berbicara sesuai dengan bidang keilmuan saya.

Profesional versi Anda seperti apa?

Kalau saya berada di podium partai, saya akan berbicara partai. Kalau saya berada di podium pengajian, saya bicara pengajian. Sampai sekarang simbol-simbol partai pun tidak ada saya tempelkan. Mau itu di mobil atau di motor. Ya sesuai dengan tupoksi masing-masing.

Anda katakan bahwa diusung partai. Partai tidak marah Anda enggan menempelkan embel-embel partainya?
Saya melihat tidak semua orang suka dengan partai. Mungkin orang banyak suka dengan dakwah saya, tapi belum tentu suka partai saya. Makanya saya berpikir dakwah lebih utama. Di tempat kita (PKS) itu ada tipe-tipenya. Misalnya tipe ustadz ya dibiarkan saja. Jadi tidak ada paksaan. Disesuaikan dengan bidangnya masing-masing. Kalau saya fokusnya kan di dakwah dan menurut saya berpartai pun untuk kemaslahatan berdakwah sebenarnya. Kalau tidak ada kemaslahatannya, tidak ada gunanya berpartai. Berpartai juga untuk menjaga kepentingan dakwah. Agar dakwah tidak terkotak hanya di masjid atau pengajian saja. Tapi juga di mimbar parlemen juga kita jadikan tempat berdakwah.

Kalau disuruh milih, Anda mau berdakwah atau menjadi politikus?
Bagi kita (kader PKS) politik itu bagian dari dakwah. Jadi bukan menjadi pilihan A atau B. Konsekuensi dari dakwah itu juga harus memasuki dunia politik. Contohnya yang saya sampaikan tadi. Minuman keras itu haram, judi haram, kalau kita cuma ceramah saja dan andaikan di dewan itu melegalkan, kita bisa apa. Makanya tadi saya sampaikan parlemen itu juga bagian dari mimbar dakwah.

Dari kacamata Anda, politik di Indonesia khususnya di Batam saat ini seperti apa?
Kalau politik di Batam, bicara puas atau tidak, tentu saya tidak puas. Contoh sederhananya itu mengenai hiburan malam. Di Tanjungpinang berhasil di tutup total. Tapi di sini kita kalah. Saya tidak puas dengan beberapa jawaban-jawaban yang diberikan. Bisa saja ini terjadi karena lemah melobi. Inilah realita politik di Batam. Jadi yang harus di benahi adalah kekuatan umat Islam. Ini harus bersatu. Kalau dilihat dari kekuatan politik, sebenarnya aspirasi umat Islam cukup terakomodir. Tapi kebersamaan satu langkah itu, yang belum maksimal.

Apabila nanti Anda terpilih, hal mendasar apa yang ingin Anda ubah di Kepri, khususnya Batam?
Kita kan skala prioritas, kita juga punya daya yang cukup efektif dan masif. Ini yang pertama harus diubah. Kalau wilayah pemikiran itu sangat susah. Karena harus bertarung sekian lama untuk pembenahan. Jadi nanti bukan hanya nilai-nilai Islam yang di terapkan, tapi nilai-nilai budaya melayu disini harus di ke depankan. Saya tidak ingin budaya melayu yang Islami itu hanya tampil sebatas acara formal. Tapi harus benar-benar memboombing dan menghidupkan kembali budaya-budaya melayu masyarakat yang giat bekerja dan belajar. Contohnya yang paling nyata adalah bahasa melayu yang menjadi bahasa indonesia. Kenapa bisa begitu, karena dulu yang mempunyai kamus satu-satunya adalah bahasa melayu. Itu ditulis oleh Raja Ali Haji. Ini yang tidak di wariskan kepada anak-anak melayu sekarang. Orang-orang melayu dulu belajarnya sampai ke Timur Tengah.

Kalau gajinya mau Anda apakan? Dipakai sendiri atau ada hal lain yang akan Anda lakukan?
Saya bersama ustadz lain mempunyai keinginan besar. Yaitu membangun pesantren. Karena basis yang terkuat itu ada pada pendidikan. Saya secara pribadi pun belum puas dengan pendidikan yang ada. Kemudian kita juga ingin menambahkan Da’i lagi. Karena Batam secara keseluruhan masih sangat minim Da’i.

Terkadangkan kalau sudah terpilih banyak caleg-caleg yang melakukan hal menyimpang dan tidak sesuai dengan misi dan visi awalnya. Untuk menghindari hal itu apa yang akan anda lakukan?


Kalau di kita ada mekanisme berjamaah. Artinya jika kita semakin terbuka dengan struktur pengurus, kita akan lebih terkontrol. Srigala itukan akan memakan domba yang sendirian. Jadi kalau tidak mau terbuka dengan pengurus ya, besar kemungkina khilaf-khilaf gitu. Kalau di kita ada yang namanya pertemuan pekanan. Nah itu media kita untuk berkonsultasi dan saling sehat menasehati. Semakin sering mengikuti kegiatan pekanan itu, dia akan semakin terjaga dan terawasi. Setiap kader yang tidak konsisten dengan pertemuan pekanan, akan menjadi catatan kita.

Saat ini citra PKS kan sedang terpuruk dengan adanya kasus korupsi yang melibatkan mantan presidennya. Anda yakin akan terpilih nantinya?
Pemilu sekarang ini, menariknya (masyarakat) tidak lagi melihat partainya. Orang lebih melihat pada tokohnya. Bahkan nomor urutnya pun sekarang ini tidak terlalu berpengaruh. Itu juga kasus di pusat. Bagi kita yang di daerah aksesnya tidak terlalu besar. Itu dibuktikan dengan pemilihan di beberapa daerah kemarin. Seperti Jawa Barat dan Sumatera Utara, kader kita menang juga. Artinya apa, kembali kepda pribadi orang itu. Dari situ kita bisa melihat bahwa masyarakat lebih melek dan paham dengan politik. Jadi tidak terlalu masalah. Justru bagi saya ini tantangan. Kita juga mengenal ada istilah kader tisu.

Kader tisu itu seperti apa?
Kalau tisu itu ditarik satu kan keluar satu lagi. Seperti kasus mantan presiden PKS Lutfi. Begitu diambil langsung di tetapkan Anis Matta sebagai presiden. Mungkin PKS satu-satunya partai yang sangat mudah melakukan pergantian pesiden. Jadi diambil satu akan ada kader-kader yang lain. Itu juga di terapkan di level kota dan provinsi.

Dari pandangan anda legislatif dan eksekutif di Batam seperti apa?
Inikan (legislatif dan eksekutif) seiring sejalan. Artinya tidak main kuat-kuatan. Tapi kita cari titik temu dimana menitik beratkan masyarakat yang madani. Jadi realisasinya seperti apa masyarakat madani. Jangan sampai visi yang begitu indah, dalam teknisnya tidak sesuai. Ini harus di luruskan.

Masyarakat madani itu seperti apa?
Masyarakat yang tidak terlalu suka hura-hura. Contoh sederhananya saat akhir tahun. Selalu ada acara hura-hura (pesta kembang api) yang menghabiskan dana ratusan juta. Bukan saya melarang untuk bahagia, silahkan saja kalau mau bahagia. Tapi inikan ada anggaran dari rakyat. Dalam situasi seperti ini kita lihat banyak sekolah yang tidak selesai-selesai, kan sudah tidak sinkron. Menghabiskan uang untuk acara seperti itu. Visinya bagus tapi realisasinya?. Basis utama itukan ada pada pendidikan, kalau kita wariskan dengan budaya hedonis dengan tujuan menyaingi Singapur ya tidak bisa. Singapur memang alamnya seperti itu. Jangan budaya luar itu di copy paste semua.

Jadi seharusnya malam tahun baru itu seperti apa?
Kita punya budaya Melayu. Kita harus bangkitkan yang terendam ini. Misalnya mengadakan lomba pantun atau gurindam dua belas. Artinya nilai-nilai budaya ini yang harus diangkat. Atau kita bisa meniru apa yang dilakukan di Jakarta saat ini. Membuka pasar malam. Kemudian munculkan segala jenis makanan khas masyarakat melayu. Jadi misi masyarakat yang madani itu tercapai. Masyarakat madani itu masyarakat yang tidak terlalu suka berhura-hura.   Tapi memberikan nilai budaya dan pendidikan. Intinya yang inovatif lah dan itu di jadikan ciri khas. Bukannya mengekor. Itu bisa menjadi daya tarik di sektor pariwisata.***
(http://posmetrobatam.com)

Share this article :

1 komentar:

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS BATAM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger