Anis Matta: KH Sahal Mahfudz Memberi Makna Sosial pada Fiqh - PKS BATAM
Headlines News :
Home » » Anis Matta: KH Sahal Mahfudz Memberi Makna Sosial pada Fiqh

Anis Matta: KH Sahal Mahfudz Memberi Makna Sosial pada Fiqh

Written By pks batam on Jumat, 24 Januari 2014 | 8:27 PM

PKS BATAM - Hari ini kita kehilangan salah satu putra terbaik bangsa. KH Sahal Mahfudz yang berpulang hari ini memang tokoh nahdliyin, tapi almarhum telah menjadi "milik" bangsa Indonesia.

Menurut Presiden Partai Keadilan Sejahteran (PKS) Anis Matta, sumbangsih terbesar KH Sahal adalah mentransformasi pemikiran tentang fiqh yang tidak lagi terbatas berkutat pada masalah halal-haram, tetapi juga menggali makna sosial dari ajaran fiqh.

"Dalam bahasa Arab, fiqh artinya pemahaman yang mendalam. Orang yang memiliki pemahaman disebut faqih. Dalam hal ini pemahaman yang mendalan tentang ajaran-ajaran Allah yang tertuang menjadi syariah. Nah, KH Sahal mengangkatnya lebih tinggi, dengan memikirkan bagaimana ajaran fiqh dapat menjadi etika sosial," terang Anis dalam rilisnya kepada Tribunnews.com, Jumat (24/1/2014).

KH Sahal telah membuat fiqh tidak menyeramkan, bahkan dapat menjadi tuntunan praktis bagi masyarakat awam. "Tentu setiap orang wajib berusaha mencari referensi yang baik ketika ingin memahami masalah agama, tapi juga jangan dibuat rumit. Itu spirit dan sikap Kyai Sahal yang saya tangkap dari pernyataan-pernyataan beliau selama ini," kata Anis yang ketika kanak-kanak mengaji di madrasah NU di Bone, Sulawesi Selatan itu.

Ketika menerima penghargaan gelar doktor honoris causa dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2003, KH Sahal mengatakan bahwa para pengkaji dan pengembang fiqh dituntut memiliki wawasan tentang dimensi etik dan formal legalistik fiqih.

Dua dimensi ini harus diletakkan secara proporsional agar pengembangan fiqih benar-benar sejalan dengan fungsinya yakni sebagai pembimbing sekaligus pemberi solusi atas permasalahan kehidupan praktis, baik individu maupun sosial.

Dalam pidato itu pemimpin Pesantren Maslakul Huda di Pati, Jawa Tengah, tidak setuju menjadikan fiqh sebagai hukum positif nasional. "Fiqh harus dihadirkan sebagai etika sosial. Inilah yang selama ini mendorong saya untuk mengembangkan fiqih yang bernuansa sosial. Jadi, tidak hanya bicara halal-haram yang kental dengan nuansa individual atau upaya untuk menjadikan fiqih sebagai hukum negara," kata almarhum pada waktu itu.

Anis menambahkan bahwa kepergian seorang alim adalah kehilangan bagi umat. "Karena itu kita harus berdoa semoga Allah mengganti kepergian Kyai Sahal dengan kehadiran ulama-ulama muda, khususnya dari kalangan nahdliyin, yang akan melanjutkan perjuangan para ulama pendahulu," kata Anis. [http://www.tribunnews.com]
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS BATAM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger