Mendaki ke Puncak Ketulusan - PKS BATAM
Headlines News :
Home » » Mendaki ke Puncak Ketulusan

Mendaki ke Puncak Ketulusan

Written By pks batam on Kamis, 30 Januari 2014 | 4:56 PM

Oleh: Mochamat Mustofa - Aktifis FSPMI Batam

Tuluskah kita sebagai aktivis pergerakan ketika melakukan suatu kebaikan bagi orang lain? Maaf saya lancang bertanya begitu. Soalnya, di lingkungan masyarakat kita sudah sejak lama tertanam kepercayaan bahwa tidak ada yang benar-benar tulus didunia ini. Ketika seseorang berbuat kebaikan, nyaris bisa dipastikan jika dia mengharapkan balasan atas kebaikannya itu.

Wajar saja kan? Orang yang berbuat baik mengharapkan kebaikan juga. Apa salahnya? Tidak salah. Bahkan hukum alam pun memang sudah berlaku demikian. Yang membuat keadaan menjadi tidak karuan adalah ketika kita tidak lagi percaya kepada hukum alam itu. Kita ragu, jika alam akan menjalankan hukumnya. Sehingga ketika kita melakukan sebuah perubahan yang lebih baik , kita lantang menuntut balasannya.

Apalagi di zaman ketika kedudukan dan jabatan bisa dibeli dengan suara para pemilih. Kita, sudah sekalian memperdayainya. Makanya, ketika balasan kebaikan yang kita lakukan itu tidak seperti yang kita harapkan; karpet yang sudah ‘disumbangkan’ ke tempat ibadah pun diambil kembali. Jadi, tuluskah Anda dengan kebaikan yang Anda lakukan itu?

Gaji atau penghasilan tiap bulan yang kita dapatkan, boleh dibilang bukan dari hasil usaha kita sendiri. Melainkan dari orang-orang yang secara diam-diam siang dan malam memikirkan atau merekomendasikan kita kepada pengambil keputusan yang kita tidak bisa menjangkaunya. Tapi bagaimana kita bisa tetap bertahan dalam profesi ini hingga sejauh ini? Utamanya berkat jasa dan kontribusi dari orang-orang yang tidak kita ketahui itu. Mereka menolong kita untuk mendapatkan penghasilan itu .

Mereka tidak pernah bicara dengan kita. Tidak pernah bertemu dengan kita. Namun mereka begitu peduli kepada kita. Dan bersedia menjadikan dirinya sebagai jalan demi mengalirnya nafkah dan rezeki untuk kita.

Kepada orang-orang seperti ini. Kita tidak lagi perlu bertanya; Tuluskah Dia ketika melakukan suatu kebaikan bagi orang lain? Sudah pasti tulus. Karena mereka sama sekali tidak menuntut apapun atas apa yang mereka lakukan untuk orang lain. Dengan sikap dan caranya aktivis berkontribusi kepada kesuksesan orang lain, mereka sudah berhasil mendaki hingga ke puncak dari segala ketulusan.

Boleh jadi anda adalah salah satu dari orang-orang yang sedang kami bicarakan ini. Maka tidak ada balasan apapun yang bisa kami berikan kepada kebaikan aktifis pergerakan . Kenapa? Karena kami tidak akan pernah mampu membalas sebuah kebaikan yang dilakukan seseorang dengan tulus.

Hampir seperti halnya tidak ada kebaikan yang bisa menebus segala kebaikan dan pengorbanan seorang ibu. Oleh karenanya, imbalan terbaik yang layak diterima oleh aktifis atau orang-orang yang tulus seperti anda hanyalah yang datang dari dzat yang sanggup memberikan balasan 700 kali lipat. Bahkan Dia, yang dengan sesuka hatiNya berkuasa untuk melipat gandakannya lagi. Kepada siapa saja yang dikehendakiNya.

Jika tetangga Anda mengirimkan semangkuk sayur lodeh. Lalu Anda mengembalikan mangkuk itu dengan berisikan gulai kambing. Maka Anda dan tetangga Anda itu sudah sama-sama melakukan kebaikan. Namun nilai kebaikan Anda tetap belum sepadan dengan nilai kebaikan yang tetangga Anda lakukan. Mengapa? Anda, mengirimkan gulai kambing itu karena tetangga Anda mengirimkan sayur lodeh.

Sedangkan tetangga Anda, mengirimkan sayur lodehnya bahkan ketika dia tidak tahu apakah Anda akan memberi balasan atau tidak. Dia mengharapkan balasan bukan dari Anda, melainkan dari Sang Maha Penyedia Pahala.

Kami pun demikian. Tidak mungkin bisa membalas sebanding dengan kebaikan yang sudah anda berikan kepada kami. Anda  hanya akan bisa menyamai kebaikan tetangga anda itu jika Anda bisa mendaki hingga ke puncak segala kebaikan seperti dirinya. Yaitu ketika anda menemukan momen untuk terlebih dahulu melakukan kebaikan kepada mereka. Dengan sebuah kebaikan yang anda sama sekali tidak mengharapkan imbalan apapun darinya. 

Dan kami, hanya bisa mengimbangi kebaikan yang sama seperti yang anda lakukan, jika dan hanya jika saya bisa melakukan sesuatu untuk anda. Tanpa Anda memintanya. Dan tanpa saya mengharapkan imbalan apapun dari Anda. Dan saya tidak tahu; apakah kami mampu melakukan itu. Jika pun mampu, apakah kami mau melakukannya. Mungkin saja hati ini tidak tergerak untuk berbuat baik seperti anda telah berbuat baik kepada orang lain.

Kenyataannya, banyak orang yang mempunyai kemampuan, kelapangan dan keleluasaan untuk berbuat kebaikan bagi orang lain, mereka tidak melakukannya. Hal ini menunjukkan bahwa puncak segala ketulusan itu tidak untuk semua orang.

Hanya sedikit yang mampu mendakinya. Yaitu mereka yang bersedia mendengarkan ketika hatinya digerakkan oleh Firman Tuhan; “Berbuat baiklah. sebagaimana Tuhan telah berbuat baik kepada engkau.” Mungkin tidak semua orang pernah membaca teks firman dalam surat 28 (Al-Qasas) ayat 77 itu.

Namun, sungguh dalam penciptaan setiap jiwa Tuhan telah melengkapi dengan hati nurani, yang senantiasa bisa mendengar malaikat membacakannya melalui telinga hati mereka. Dan semoga kita bisa terus mendaki. Hingga sampai di puncak ketulusan yang paling tinggi.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PKS BATAM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger